Sabtu, 12 Februari 2011

NEONATUS DAN BAYI DENGAN MASALAH

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Menurunkan angka kematian bayi merupakan salah satu tujuan dari asuhan kebidanan pada neonatal, bayi dan balita.  Dalam pelaksanaannya masih banyak hambatan yang terjadi, contohnya ialah lahirnya bayi dengan masalah, bayi dengan penyakit tertentu, dan balita yang terserang penyakit.  Maka dari itu penting bagi tenaga kesehatan, khususnya bidan untuk mengetahui dan terampil dalam mengenali gejala suatu penyakit serta cara menanganinya. Makalah ini akan membahas tentang beberapa penyakit yang dapat menyerang bayi antara lain ialah : bercak mongol, hemangioma, muntah, gumoh, oral trush, diaper rash, sebhorrea, milliariasis, diare, obstipasi , infeksi, syndrom kematian bayi mendadak (sudden infant death syndrome-sids), muntah dan gumoh, gumoh/regurgitasi serta penatalaksanaanya.

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Apa saja masalah kesehatan yang dapat terjadi pada neonatus, bayi dan balita?
2.      Apa yang menyebabkan masalah-masalah kesehatan tersebut muncul?
3.      Bagaimana mengenali setiap masalah kesehatan yang terjadi pada neonatus, bayi dan balita?
4.      Komplikasi apa saja yang dapat terjadi jika masalah kesehatan tersebut tidak ditangani dengan tepat dan segera?
5.      Bagaimana penanganan setiap masalah kesehatan yang terjadi?



6.      Apa saja yang harus bidan persiapkan jika masalah kesehatan tersebut tidak dapat ditangani sendiri dan harus dirujuk?
7.      Tindakan preventif apa yang dapat dilakukan untuk mencegah masalah-masalah kesehatan pada neonatus, bayi dan balita?

1.3  Tujuan
Adapun tujuan disusunnya makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui apa saja masalah kesehatan yang dapat terjadi pada neonatus, bayi dan balita
2.      Mengetahui penyebab masalah-masalah kesehatan pada neonatus, bayi dan balita
3.      Mengetahui tanda dan gejala setiap masalah kesehatan yang terjadi pada neonatus, bayi dan balita
4.      Mengetahui komplikasi apa saja yang dapat terjadi jika masalah kesehatan tersebut tidak ditangani dengan tepat dan segera
5.      Mengetahui penanganan setiap masalah kesehatan yang terjadi
6.      Mengetahui apa saja yang harus bidan persiapkan jika masalah kesehatan tersebut tidak dapat ditangani sendiri dan harus dirujuk
7.      Mengetahui tindakan preventif  yang dapat dilakukan untuk mencegah masalah-masalah kesehatan pada neonatus, bayi dan balita

1.4 Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah dengan studi pustaka dan searching website.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Bercak Mongol
2.1.1 Definisi
Bercak mongol adalah bercak berwarna biru yang biasanya terlihat di bagian sacral. Walaupun kadang terlihat di bagian tubuh yang lain. Bercak mongol biasanya terjadi pada anak-anak yang dilahirkan oleh orang tua Asia dan Afrika, terkadang juga terjadi pada anak-anak dengan orang tua Mediterania.( Mayes Midwifery Textbook ).
Sementara itu, menurut Mary Hilton dalm bukunya Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, bercak mongol adalah daerah pigmentasi biru kehitaman yang dapat terlihat pada semua permukaan tubuh, termasuk pada ekstremitas. Bercak ini lebih sering terlihat di punggung dan di bokong. Bercak ini secara bertahap akan lenyap dengan sendirinya dalam hitungan bulan dan tahun.
2.1.2 Etiologi
Bercak mongol adalah bawaan sejak lahir, warna khas bercak mongol ditimbulkan oleh adanya melanosit yang mengandung melanin pada dermis yang terhambat selama proses migrasi dari krista neuralis ke epidermis. Lesi-lesi yang tersebar luas, terutama pada tempat-tempat yang tidak biasa cenderung tidak menghilang.  Lesi ini biasanya berisi sel melanosit yang terletak di lapisan dermis sebalah dalam atau disekitar folikel rambut yang terkadang tersebar simetris, tetapi dapat juga unilateral. Bercak ini hanya merupakan lesi jinak dan tidak berhubungan dengan kelainan-kelainan sistemik.  Bercak ini akan hilang dengan sendirinya pada tahun pertama dan kedua kehidupannya. Bidan harus dapat memberikan konseling pada orangtua bahwa bercak mongol tersebut wajar dan akan hilang sendiri tanpa pengobatan, sehingga orang tua tidak perlu khawatir terhadap keadaan bayinya.
2.1.3 Tanda dan Gejala
Tanda lahir ini biasanya berwarna cokelat tua, abu-abu batu, atau biru kehitaman. Terkadang bintik mongol ini terlihat seperti memar. Biasanya timbul pada bagian punggung bawah dan bokong, tetapi sering juga ditemukan pada kaki, punggung, pinggang, dan pundak. Bercak mongol juga memiliki ukuran yang bervariasi. Seorang anak bisa memiliki satu atau beberap[pa bercak mongol. Biasanya bercak mongol ini terlihat sebagai :
1.            Luka seperti pewarnaan
2.            Daerah pigmentasi dengan tekstur kulit yang normal
3.            Area datar dengan bentuk yang tidak teratur
4.            Bercak yang biasanya akan menghilang dalam hitungan bulan atau
         tahun
5.            Tidak ada komplikasi yang ditimbulkan

2.1.4 Penatalaksanaan
Bercak mongol biasanya menghilang di tahun pertama, atau pada 1-4 tahun pertama sehingga tidak memerlukan penanganan khusus. Namun, bercak mongol multiple yang tersebar luas, terutama pada tempat-tempat biasa, cenderung tidak akan hilang dan dapat menetap sampai dewasa.
Sumber lain mengatakan bahwa bercak mongol ini mulai pudar pda usia dua tahun pertama dan menghilang antara usia 7-13 tahun.
Nevus ota (daerah zigomatikus) ddan nevus ito (daerah sclera atau fundus mata atau daerah delto trapezius) biasanya menetap, tidak perlu diberika pengobatan. Namun, bila penderita telah dewasa, pengobatan dapat dilakukan dengan alasan estetik. Akhir-akhir ini pengobatan dianjurkan menggunakan sinar laser.  Penatalaksanaan yang dapat dilakukan oleh bidan dalam hal ini adalah dengan memberika konseling pada orang tua bayi. Bidan menjelaskan mengenai apa yang dimaksud dengan bintik mongol, menjelaskan bahwa bentuk mongol ini akan menghialng dalam hitungan bulan atau tahun dan tidak berbahaya serta tidak memerlukan penanganan khusus sehingga orang tua bayi tidak merasa cemas.

2.2 Hemangioma   
Hemangioma1.jpg2.2.1 Definisi
Hemangioma adalah suatu tumor jaringan lunak atau tumor vascular jinak akibat proliferasi (pertumbuhan yang berlebihan) dari pembuluh darah yang tidak normal dan dapat terjadi pada setiap jaringan pembuluh darah. Hemangioma sering terjadi pada bayi baru lahir dan pada anak berusia kurang dari 1 tahun (5-10%). Biasanya hemangioma sudah tampak sejak bayi dilahirkan (30%) atau muncul beberapa minggu setelah kelahiran (70%). Hemangioma muncul di setiap tempat pada permukaan tubuh seperti kepala, leher, muka, kaki, atau dada. Hemangioma merupakan tumor vascular jinak terlazim pada bayi dan anak.


2.2.2        Pembagian
a.       Nevus flammeus
Daerah kapiler yang tidak menonjol, berbatas tegas, ukurannya tidak bertambah, berwarna merah ungu, dan akan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan.
b.      Nevus vaskulosus
Kapiler yang baru terbentuk dan membesar pada kulit (lapisan dermis dan subdermis) yang tumbuh beberapa bulan setelah lahir kemudian mengerut dan menghialng dengan sendirinya.

2.2.3        Penatalaksanaan
Memberikan konseling kepada orang tua bahwa tanda lahir itu normal dan sering terjadi pada bayi baru lahir, sehingga orang tua tidak perlu khawatir dalam menghadapi kejadian ini.

2.3        Muntah
2.3.1        Definisi
Muntah adalah keluarnya sebagian besar atau seluruh isi lambung yang terjadi setelah makanan masuk lambung agak lama, disertai kontraksi lambung dan abdomen. Dalam beberapa jam pertama setelah lahir, bayi mungkin mengalami muntah lendir, bahkan disertai sedikit darah. Muntah ini tidak jarang menetap setelah pemberian ASI atau makanan, keadaan tersebut kemungkinan disebabkan karena iritasi mukosa lambung oleh sejumlah benda yang tertelan selama proses persalinan.

2.3.2        Etiologi
Muntah bisa disebabkan karena berbagai hal seperti berikut ini.
1.      Kelainan kongenital
Pada saluran pencernaan, iritasi lambung, atresia esophagus, hirschprung, tekanan intrakranial yang tinggi.
2.      Infeksi pada saluran pencernaan.
3.      Cara pemberian makan yang salah.
4.      Keracunan

2.3.3        Komplikasi
Komplikasi terjadinya muntah adalah sebagai berikut.
1.      Dehidrasi atau alkalosis karena kehilangan cairan tubuh/elektrolit.
2.      Ketosis karena tidak makan dan minum.
3.      Asidosis yang disebab adanya ketosis yang dapat berkelanjutan
      menjadi syok bahkan sampai kejang.
4.      Ketegangan otot perut, perdarahan konjungtiva, rupture esophagus,
      aspirasi yang disebabkan karena muntah yang sangat hebat.

2.3.4        Patofisiologi
Muntah terjadi ketika anak/bayi menyemprotkan isi perutnya keluar. terkadang sampai seluruh isinya dikeluarkan. Pada bayi, muntah sering terjadi pada minggu-minggu pertama. Hal tersebut merupakan reaksi spontan ketika isi lambung dikeluarkan dengan paksa melalui mulut. Reflex ini dikoordinasikan di medulla oblongata. Muntah dapat dikaitkan dengan keracunan, penyakit saluran pencernaan, penyakit intrakranial, atau toksin yang dihasilkan oleh bakteri

2.3.5        Sifat muntah
Keluar cairan terus-menerus, hal ini kemungkinan disebabkan oleh obstruksi esophagus.  Muntah proyektil, hal ini kemungkinan disebabkan oleh stenosis pylorus (suatu kelemahan pada katup di ujung bawah lambung yang menghubungkan lambung dengan usus 12 jari yang tidak mau membuka).  Muntah hijau kekuning-kuningan kemungkinan akibat obstruktif dibawah ampula vateri. Muntah segera setelah lahir dan menetap, kemungkinan adanya tekanan intrakranial yang tinggi atau obstruksi pada usus.

2.3.6        Penatalaksanaan
1.      Kaji faktor dan sifat muntah.
a.       Jika terjadi pengeluaran cairan terus-menerus, maka
      kemungkinan dikarenakan obstruksi esophagus.
b.      Jika terjadi muntah berwarna hijau kekuning-kuningan, maka patut dicuriagai adnya obstruksi di bawah ampula vateri.
c.       Jika terjadi muntah proyektil, maka harus dicurigai adanya stenosis pylorus.
d.      Jika terjadi segera setelah lahir kemudian menetap, maka kemungkinan terjadi peningkatan tekanan intracranial.
2.      Berikan pengobatan yang bergantung pada faktor penyebab.
3.      Ciptakan suasana tenang.
4.      Perlakukan bayi dengan baik dan hati-hati.
5.      Berikan diet yang sesuai dan tidak merangsang muntah.
6.      Berikan antiemetik jika terjadi reaksi simptomatis.
7.      Rujuk segera.

2.4        Gumoh
2.4.1        Definisi
Gumoh adalah keluarnya kembali sebagian kecil isi lambung setelah beberapa saat setelah makanan masuk ke dalam lambung. Muntah susu adalah hal yang biasa terjadi, terutama pada bayi yang mendapatkan ASI. Hal ini tidak akan mengganggu pertambahan berat badan secara signifikan. Gumoh biasanya terjadi karena bayi menelan udara pada saat menyusu.



2.4.2        Etiologi
Penyebab terjdinya gumoh adalah sebagsi berikut.
1.         Bayi sudah merasa kenyang.
2.         Posisi salah saat menyusui.
3.         Posisi botol yang salah.
4.         Tergesa-gesa saat pemberian susu.
5.         Kegagalan dalam mengeluarkan udara yang tertelan.

2.4.3        Patofisiologi
Pada keadaan gumoh, biasanya lambung sudah dalam keadaan terisi penuh, sehingga terkadang gumoh bercampur dengan air liur yang mengalir kembali ke atas dan keluar memalui mulut pada sudut-sudut bibir. Hal tersebut disebabkan karena otot katup di ujung lambung tidak bisa bekerja dengan baik. Otot tersebut seharusnya mendorong isi lambung ke bawah. Kebanyakan gumoh terjadi pada bayi di bulan-bulan pertama kehidupannya.

2.4.4        Penatalaksanaan
1.         Perbaiki teknik menyusui
2.         Perhatikan posisi botol saat pemberian susu.
3.         Sendawakan bayi setelah disusui.
4.         Lakukan teknik menyusui yang benar, yaitu bibir mencakup
        rapat seluruh putting susu ibu.

2.5      Oral Trush
2.5.1        Definisi
oral trush.jpgOral trush adalah terinfeksinya membran mukosa mulut bayi oleh jamur Candidiasis yang ditandai dengan munculnya bercak-bercak keputihan dan membentuk plak-plak berkeping di mulut, terjadi ulkus dangkal. Biasanya penderita akan menunjukkan gejala demam karena adanya iritasi gastrointestinal.
2.5.2        Etiologi
Oral trush terjadi karena adanya infeksi jamur (Candida albican) yang merupakan organisme penghuni kulit dan mukosa mulut, vagina, dan saluran cerna.
2.5.3        Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang sangat mudah terlihat pada pasien oral trush adalah lesi di mulut yang berwarna putih dan membentuk plak-plak yang berkeping menutupi seluruh atau sebagian lidah, kedua bibir, gusi, dan mukosa pipi.
2.5.4        Penatalaksanaan
Oral trush pada umumnya bisa sembuh dengan sendirinya. Akan tetapi lebih baik jika pengobatan dengan cara berikut.
1.         Bedakan oral trush dengan endapan susu pada mulut bayi.
2.         Apabila sumber infeksi berasal dari ibu, maka ibu harus segera
       diobati dengan pemberian antibiotic berspektrum luas.
3.         Jaga kebersihan dengan baik, terutama kebersihan mulut.
4.         Bersihkan daerah mulut bayi setelah makan ataupun minum
       susu dengan air matang dan juga bersih.
5.         Pada bayi yang minum susu dengan menggunakan botol,
       gunakan teknik steril dalam membersihkan botol susu.
6.         Berikan terapi pada bayi
a.          1 ml larutan Nystatin 100.000 unit diberikan 4 kali sehari
        dengan interval setiap 6 jam. Larutan diberikan dengan
        lembut dan hati-hati agar tidak menyebar luas ke rongga
        mulut.
b.         Gentian violet 3 kali sehari.


2.6      Diaper Rash
2.6.1        Definisi
diaper rash #.jpgDiaper rash adalah kemerahan pada kulit bayi akibat adanya kontak terus-menerus dengan lingkungan yang tidak baik.



2.6.2        Etiologi
1.   Tidak terjaganya kebersihan kulit dan pakaian bayi.
3     Jarangnya mengganti popok setelah bayi BAB atau BAK
4     Terlalu panas atau lembapnya udara/suhu lingkungan.
5     Tingginya frekuensi BAB (diare)
6     Adanya reaksi kontak terhadap karet, plastic, dan deterjen.
6.3.1        Tanda dan Gejala
1.   Iritasi pada kulit yang kontak langsung dengan allergen, sehingga muncul eritema.
2.   Erupsi pada daerah kontak yang menonjol, seperti bokong, alat genital, perut bawah, atau paha atas.
3.   Pada keadaan yang lebih parah dapat terjadi papilla eritematosa, vesikula, dan ulserasi.
6.3.2        Penatalaksanaan
1.   Daerah yang terkena ruam popok, tidak terkena air dan harus dibiarkan terbuka dan tetap kering.
2.   Gunakan kapas halus yang mengandung minyak untuk membersihkan kulit yang iritasi.
3.   Segera bersihkan dan keringkan bayi setelah BAK atau BAB.
4.   Atur posisi tidur anak agar tidak menekan kulit/dearth iritasi.
5.   Usahakan memberikan makanan tinggi kalori tinggi protein (TKTP) dengan porsi cukup.
6.   Perhatikan kebersiahan kulit dan tubuh secara keseluruhan.
7.   Jagalah kebersihan pakaian dan alat-alat untuk bayi.
8.   Rendamlah pakaian atau velana yang terkena urine dalam air yang dicampur acidum borium, setelah itu bersihkan tetapi jangan menggunakan sabun cuci, segera bilas dan keringkan.

2.7  Sebhorrea
2.7.1        Definisi
Sebhorrea adalah radang berupa sisik yang berlemak dan eritema pada daerah yang memiliki banyak kelenjar sebaseanya, biasanya didaerah kepala.
2.7.2        Etiologi
Penyebab sebhorrea masih belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa ahli yang menyatakan beberapa faktor penyebab sebhorrea, yaitu sebagai berikut.
1.      Faktor hereditas, yaitu bisa disebabkan karena adanya factor keturunan dari orang tua
2.      Intake makanan yang tinggi lemak dan kalori
3.      Asupan minuman beralkohol
4.      Adanya gangguan emosi
2.7.3        Penatalaksanaan
Walaupun secara kausal masih belum diketahui, tetapi penyembuhannya bisa dilakukan dengan obat-obat topical, seperti sampo yang tidak berbusa (keramasilah kepala bayi sebanyak 2-3 kali per minggu) dan krim selenium sulfide/Hg-presipitatus albus 2%.


2.8  Milliariasis
2.8.1        biang-keringat.jpgDefinisi
Milliariasis disebut juga sudamina, liken tropikus, biang keringat, keringat buntet, atau prickle heat. Milliariasis adalah dermatosis yang disebabkan oleh retensi keringat tersumbatnya pori kelenjar keringat.
2.8.2        Etiologi
Penyebab terjadinya milliariasis ini adlah udara yang panas dan lembap serta adanya infeksi bakteri.
2.8.3        Patofisiologi
Patofisiologi terjadinya milliariasis diawali dengan tersumbatnya pori-pori kelenjar keringat, sehingga pengeluaran keringat tertahan. Tertahannya pengeluaran keringat ini ditandai dengan adanya vesikel miliar di muara kelenjar keringat lalu disusul dengan timbulnya radang dan udema akibat perspirasi yang tidak dapat keluar yang kemudian diabsorpsi oleh stratum korneum. Milliariasis sering terjadi pada bayi premature karena proses diferensiasi sel epidermal dan apendiks yang belum sempurna. Kasus milliariasis terjadi pada 40-50% bayi baru lahir. Muncul pada usia 2-3 bulan pertama dan akan menghilang dengan sendirinya pada 3-4 minggu kemudian. Terkadang kasus ini menetap untuk beberapa lama dan dapat menyebar ke daerah sekitarnya.
2.8.4        Pembagian serta tanda dan gejala
Ada 2 tipe milliariasis, yaitu milliaria kristalina dan milliaria rubra.
1.      Milliaria kristalina.
Milliaria kristalina ini timbul pada pasien yang mengalami peningkatan jumlah keringat, seperti pasien demam yang terbaring di tempat tidur. Lesinya berupa vesikel yang sangat superficial, bentuknya kecil, dan menyerupai titik embun berukuran 1-2 mm. umumnya, lesi ini timbul setelah keringat, vesikel mudah pecah karena trauma yang paling ringan, misalnya akibat gesekan dengan pakaian. Vesikel yang pecah berwarna jernih dan tanpa reaksi peradangan, asimptomatik, dan berlangsung singkat. Biasanya tidak ada keluhan dan dapat sembuh dengan sendirinya.
2.      Milliaria rubra
Milliaria rubra memiliki gambaran berupa papula vesikel dan eritema disekitarnya. Keringat menembus ke dalam epidermis. Biasanya, disertai rasa gatal dan pedih pada daerah ruam dan daerah di sekitarnya, sering juga diikuti dengan infeksi sekunder lainnya dan dapat juga menyebabkan timbulnya impetigo dan furunkel.
2.8.5        Penatalaksanaan
Asuhan yang diberikan pada neonatus, bayi, dan balita dengan milliaria bergantung pada beratnya penyakit dan keluhan yang dialami.   Asuhan yang umum diberikan adalah sebagai berikut.
1.      Prinsip asuhan adalah mengurangi penyumbatan keringat dan menghilangkan sumbatan yang sudah timbul.
2.      Jaga kebersihan tubuh bayi.
3.      Upayakan untuk menciptakan lingkungan dengan kelembapan yang cukup serta suhu yang sejuk dan kering, misalnya pasien tinggal di ruangan ber-AC atau didaerah yang sejuk dan kering.
4.      Gunakan pakaian yang menyerap keringat dan tidak terlalu sempit.
5.      Segera ganti pakaian yang basah dan kotor.
6.      Pada milliaria rubra dapat diberikan bedak salisil 2% dengan menambahkan mentol 0,5-2% yang bersifat mendinginkan ruam.
2.9  Diare
2.9.1        Definisi Diare
Diare adalah pengeluaran feses yang tidak normal dan cair.  Bisa juga didefinisikan sebagai buang air besar yang tidak normal dan berbentuk cair dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya.  Bayi dikatakan diare bila sudah lebih dari 3 kali buang air besar, sedangkan neonatus dikatakan diare bila sudah lebih dari 4 kali buang air besar.

2.9.2        Etiologi
Diare dapat disebabkan karena beberapa faktor, seperti infeksi, malabsorbsi, makanan, dan psikologi.
1.      Infeksi
a.    Enteral, yaitu infeksi yang terjadi dalam saluran pencernaan dan merupakan penyebab utama terjadinya diare.  Infeksi enteral meliputi:
a)      Infeksi bakteri : Vibrio, E. Coli, Salmonella, Shigella campylobacter, Yersinia, Aeromonas dan sebagainya;
b)      Infeksi virus : enterovirus, seperti virus ECHO, coxsackie, poliomyelitis, adenovirus, rotavirus, astrovirus, dan sebagainya;
c)      Infeksi parasit : cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris, dan strongylodies), protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, dan trichomonas hominis), serta jamur (Candida albicans).
b.      Parenteral, yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan, misalnya otitis media akut (OMA), tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis, dan sebagainya.
2.      Malabsorbsi
a.       Karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa, dan sukrosa) serta monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, dan galaktosa). Pada anak dan bayi yang paling berbahaya adalah intoleransi laktosa.
3.      Makanan, misalnya makanan basi, beracun, dan alergi.
4.      Psikologis, misalnya rasa takut atau cemas. 

2.9.3        Patogenesis
Mekanisme dasar yang dapat menyebabkan terjadinya diare adalah sebagai berikut:
1.      Gangguan osmotik
Akibat adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap oleh tubuh akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkan isinya sehingga timbul diare.
2.      Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu, misalnya toksin pada dinding usus yang akan menyebabkan peningkatan sekresi air dan elektrolit yang berlebihan ke dalam rongga usus, sehingga akan terjadi peningkatan isi dari rongga usus yang akan merangsang pengeluaran isi dari rongga usus dan akhirnya timbullah diare.
3.      Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan bagi usus untuk menyerap makanan yang masuk, sehingga akan timbul diare.  Akan tetapi, apabila terjadi keadaan yang sebaliknya yaitu penurunan dari peristaltik usus maka akan dapat menyebabkan diare juga.
2.9.4        Patogenesis Diare Akut
1        Masuknya jasad renik yang masih hidup ke dalam usus halus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung.
2        Jasad renik tersebut akan berkembang biak (multiplikasi) di dalam usus halus.
3        Dari jasad renik tersebut akan keluar toksin (toksin diaregenik).
4        Toksin diaregenik akan menyebabkan hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.
2.9.5        Tanda dan Gejala
Berikut ini adalah tanda dan gejala pada anak yang mengalami diare.
1.      Cengeng, rewel
2.      Gelisah
3.      Suhu meningkat
4.      Nafsu makan menurun
5.      Feses cair dan berlendir, kadang juga disertai dengan adanya darah.  Kelamaan, feses ini akan berwarna hijau dan asam
6.      Anus lecet
7.      Dehidrasi, bila menjadi dehidrasi berat akan terjadi penurunan volume dan tekanan darah, nadi cepat dan kecil, peningkatan denyut jantung, penurunan kesadaran, dan akhirnya syok
8.      Berat badan menurun
9.      Turgor kulit menurun
10.  Mata dan ubun- ubun cekung
11.  Selaput lendir dan mulut serta kulit menjadi kering

2.9.6        Komplikasi
Komplikasi yang terjadi jika diare tidak tertangani secara tepat dan tepat, antara lain:
1.      Dehidrasi akibat kekurangan cairan dan elektrolit, yang dibagi menjadi:
a.       Dehidrasi ringan, apabila terjadi kehilangan cairan <5% BB
b.      Dehidrasi sedang, apabila terjadi kehilangan cairan 5-10% BB
c.       Dehidrasi berat, apabila terjadi kehilangan cairan >10-15% BB
2.      Renjatan hipovolemik akibat menurunnya volume darah dan apabila penurunan volume darah mencapai 15-25% BB maka akan menyebabkan penurunan tekanan darah
3.      Hipokalemia dengan gejala yang muncul adalah meteorismus, hipotoni otot, kelemahan, bradikardi, dan perubahan pada pemeriksaan EKG
4.      Hipoglikemia
5.      Intoleransi laktosa sekunder sebagai akibat defisiensi enzim laktosa karena kerusakan vili mukosa usus halus
6.      Kejang
7.      Malnutrisi energi protein karena selain diare dan muntah, biasanya penderita mengalami kelaparan
2.9.7        Penatalaksanaan
Prinsip perawatan diare adalah sebagai berikut:
1.      Pemberian cairan (rehidrasi awal dan rumatan)
2.      Diatetik (pemberian makanan)
3.      Obat-obatan
4.      Teruskan pemberian ASI karena dapat meningkatkan daya tahan tubuh
a.       Jumlah cairan yang diberikan adalah 100ml/kgBB/hari sebanyak 1 kali setiap 2 jam, jika diare tanpa dehidrasi.  Sebanyak 50% cairan ini diberikan dalam 4 jam pertama dan sisanya adlibitium
b.      Sesuaikan dengan umur anak:
a)      <2 tahun diberikan ½ gelas;
b)      2-6 tahun diberikan 1 gelas;
c)      >6 tahun diberikan 400cc (2 gelas).
c.       Apabila dehidrasi ringan dan diarenya 4 kali sehari, maka diberikan cairan 25-100 ml/kgBB dalam sehari atau setiap 2 jam
d.      Oralit diberikan sebanyak lebih kurang 100 ml/kgBB setiap 4-6 jam pada kasus dehidrasi ringan sampai berat
Beberapa cara untuk membuat cairan rumah tangga (cairan RT)
a)      Larutan gula garam (LGG): 1 sendok teh gula pasir + ½ sendok teh garam dapur halus + 1 gelas air masak atau air teh hangat
b)      Air tajin (2 liter + 5g garam)
1)      Cara tradisional
3 liter air + 100g atau 6 sendok makan beras dimasak selama 45-60 menit
2)      Cara biasa
2 liter air + 100g tepung beras + 5g garam dimasak hingga mendidih












                                          
Skema 1.1 Sistematika Penatalaksanaan Berdasarkan Keadaan Diare
2.10          Obstipasi
2.10.1    Definisi
Obstipasi adalah penimbunan feses yang keras akibat adanya penyakit atau adanya obstruksi pada saluran cerna.  Bisa juga didefinisikan sebagai tidak adanya pengeluaran feses selama 3 hari atau lebih. Lebih dari 90% bayi baru lahir akan mengeluarkan mekonium dalam 24 jam pertama, sedangkan sisanya akan mengeluarkan mekonium dalam 36 jam pertama kelahiran.  Jika hal ini tidak terjadi, maka harus dipikirkan adanya obstipasi.  Akan tetapi harus diingat bahwa ketidakteraturan defekasi bukanlah suatu obstipasi karena pada bayi yang menyusu dapat terjadi keadaan tanpa defekasi selama 5-7 hari dan tidak menunjukkan adanya gangguan karena feses akan dikeluarkan dalam jumlah yang banyak sewaktu defekasi.  Hal ini masih dikatakan normal.  Dengan bertambahnya usia dan variasi dalam dietnya akan menyebabkan defekasi menjadi lebih jarang dan fesesnya lebih keras.
2.10.2    Etiologi
Obstipasi pada anak dapat disebabkan oleh hal-hal berikut:
1.      Kebiasaan makan
Obstipasi dapat timbul bila feses terlalu kecil untuk membangkitkan keinginan untuk buang air besar.  Keadaan ini terjadi akibat dari kelaparan, dehidrasi, dan mengonsumsi makanan yang kurang selulosa.
2.      Hipotiroidisme
Obstipasi merupakan gejala dari dua keadaan, yaitu kreatinisme dan myodem yang menyebabkan tidak cukupnya eksresi hormon tiroid sehingga semua proses metabolisme berkurang.
3.      Keadaan-keadaan mental
Faktor kejiwaan memegang peranan penting terhadap terjadinya obstipasi, terutama depresi berat yang tidak memedulikan keinginannya untuk buang air besar.  Biasanya terjadi pada anak usia 1-2 tahun.  Jika pada anak usia 1-2 tahun pernah mengalami buang air besar yang keras dan terasa nyeri, maka mereka cenderung tidak mau buang air besar untuk beberapa hari, bahkan beberapa minggu sampai beberapa bulan sesudahnya karena takut kembali mengalami nyeri.  Dengan tertahannya feses dalam beberapa hari/ minggu/ bulan, maka akan mengakibatkan kotoran menjadi keras dan lebih terasa nyeri, sehingga anak menjadi semakin malas buang air besar.  Kondisi anak dengan keterbelakangan mental juga merupakan penyebab terjadinya obstipasi karena anak sulit dilatih untuk buang air besar. 
4.      Penyakit organik
Obstipasi bisa terjadi berganti-ganti dengan diare pada kasus karsinoma kolon dan divertikulus.  Obstipasi bisa terjadi bila terasa nyeri saat buang air besar dan sengaja dihindari seperti pada fistula ani atau wasir yang mengalami thrombosis.
5.      Kelainan congenital
Adanya penyakit seperti atresia, stenosis, megakolon aganglionik kongenital (penyakit hirschsprung), obtruksi bolus usus ileus mekonium, atau sumbatan mekonium.  Hal ini dicurigai terjadi pada neonatus yang tidak mengeluarkan mekonium dalam 36 jam pertama.
6.      Penyebab lain
Penyebab lainnya adalah diet yang salah, tidak mengonsumsi makanan yang mengandung serat selulosa sehingga bisa mendorong terjadinya peristaltik, atau pada anak setelah sakit atau sedang sakit, ketika anak masih kekurangan cairan.

2.10.3    Tanda dan Gejala
1        Pada neonatus jika tidak mengeluarkan mekonium dalam 36 jam pertama, pada bayi jika tidak mengeluarkan feses selama 3 hari atau lebih.
2        Sakit dan kejang pada perut
3        Pada pemeriksaan rectal, jari akan merasa jepitan udara dan mekonium yang menyemprot
4        Feses besar dan tidak dapat digerakkan dalam rectum
5        Bising usus yang janggal
6        Merasa tidak enak badan, anoreksia, dan sakit kepala
7        Terdapat luka pada anus

2.10.4    Patofisiologi
Pada keadaan normal, sebagian besar rektum dalam keadaan kosong kecuali bila adanya refleks masa dari kolon yang mendorong feses ke dalam rektum yang terjadi sekali atau dua kali sehari.  Hal tersebut memberikan stimulus pada arkus aferen dari refleks defekasi.  Dengan adanya stimulus pada arkus aferen tersebut akan menyebabkan kontraksi otot dinding abdomen sehingga terjadilah defekasi.  Mekanisme usu yang normal terdiri atas 3 faktor, yaitu sebagai berikut:
1.      Asupan cairan yang adekuat
2.      Kegiatan fisik dan mental
3.      Jumlah asupan makanan berserat
Dalam keadaan normal, ketika bahan makanan yang akan dicerna memasuki kolon, air dan elektrolit diabsorbsi melewati membran penyerapan.  Penyerapan tersebut berakibat pada perubahan bentuk feses, dari bentuk cair menjadi bahan yang lunak dan berbentuk.  Ketika feses melewati rektum, feses menekan dinding rektum dan merangsang untuk defekasi.  Apabila anak tidak mengonsumsi cairan secara adekuat, produk dari pencernaan lebih kering dan padat, serta tidak dapat dengan segera digerakkan oleh gerakan peristaltik menuju rektum, sehingga penyerapan terjadi terus-menerus dan feses menjadi semakin kering, padat dan susah dikeluarkan, serta menimbulkan rasa sakit.  Rasa sakit ini dapat menyebabkan kemungkina berkembangnya luka.  Proses dapat terjadi bila anak kurang beraktivitas, menurunnya peristaltik usus, dan lain-lain.  Hal tersebut menyebabkan sisa metabolisme berjalan lambat yang kemungkinan akan terjadi penyerapan air yang berlebihan.
Bahan makanan berserat sangat dibutuhkan untuk merangsang peristaltik usus dan pergerakan normal dari metabolisme dalam saluran pencernaan menuju ke saluran yang lebih besar.  Sumbatan pada usus dapat juga menyebabkan  obstipasi.
2.10.5    Pembagian
1        Obstipasi akut, yaitu rektum tetap mempertahankan tonusnya dan defekasi timbul secara mudah dengan stimulasi laksatif, supositoria, atau enema.
2         Obsipasi kronik, yaitu rektum tidak kosong dan dindingnya mengalami peregangan berlebihan secara kronik, sehingga tambahan feses yang datang mencapai tempat ini tidak menyebabkan rektum meregang lebih lanjut. Reseptor sensorik tidak memberikan respons pada dinding rektum lebih lanjut, flaksid dan tidak mampu untuk berkontraksi secara efektif.

2.10.6    Komplikasi
Komplikasi yang bisa terjadi pada penderita obstipasi adalah sebagai berikut:
1.      Perdarahan
2.      Ulserasi
3.      Obstruksi
4.      Diare intermitten
5.      Distensi kolon akan menghilang jika ada sensasi regangan rektum yang mengawali proses defekasi.
2.10.7    Manajemen Terapi
Berikut adalah penilaian yang perlu dilakukan pada saat melakukan manajemen kebidanan:
1.      Penilaian asupan makanan dan cairan
2.      Penilaian dari kebiasaan usus (kebiasaan pola makan)
3.      Penilaian penampakan stress emosional pada anak yang dapat memengaruhi pola defekasi bayi.
2.10.8    Penatalaksanaan
1.      Mencari penyebab obstipasi
2.      Menegakkan kembali kebiasaan defekasi yang normal dengan mempertahankan gizi, tambahan cairan, dan kondisi psikis
3.      Pengosongan rektum dilakukan jika tidak ada kemajuan setelah dianjurkan untuk menegakkan kembali kebiasaan defekasi.  Pengosongan rektum bisa dilakukan dengan disimpaksi digital, enema minyak zaitun, dan laksatif.

2.11          Syndrom Kematian Bayi Mendadak (Sudden Infant Death Syndrome
      Sids)
2.11.1 Definisi
Sindrom kematian mati mendadak (sudden infant death syndrome-SIDS) terjadi pada bayi yang sehat, saat ditidurkan tiba-tiba ditemukan meninggal beberapa jam kemudian.  SIDS terjadi kurang lebih 4 dari 1000 kelahiran hidup, insiden puncak dari SIDS pada bayi usia 2 minggu dan 1 tahun.
2.11.2 Etiologi
Secara pasti penyebabnya belum diketahui, namun beberapa ahlu telah melakuka penelitian dan mengemukakan ada beberapa penyebab SIDS yaitu sebagai berikut:
1.      Ibu yang masih remaja
2.      Bayi dengan jarak kehamilan yang dekat
3.      Bayi laki-laki dengan berat badan di bawah normal
4.      Bayi yang mengalami dysplasia bronkopulmoner
5.      Bayi premature
6.      Gemelli (bayi kembar)
7.      Bayi dengan sibling
8.      Bayi dari ibu dengan ketergantungan narkotika
9.      Prevalensi pada bayi dengan posisi tidur telungkup
10.  Bayi dengan virus pernapasan
11.  Bayi dengan infeksi botulinum
12.  Bayi dengan apnea yang berkepanjangan
13.  Bayi dengan gangguan pola napas herediter
14.  Bayi dengan kekurangan surfaktan pada alveoli
2.11.3    Penatalaksanaan
1.      Bantu orang tua mengatur jadwal untuk melakukan konseling
2.      Berikan dukungan dan dorongan kepada orang tua, ajak orang tua untuk mengungkapkan rasa dukanya
3.      Berikan penjelasan mengenai SIDS, beri kesempatan pada orang tua untuk mengajukan pertanyaan
4.      Beri pengertian pada orang tua bahwa perasaan yang mereka rasakan adalah hal yang wajar
5.      Beri keyakinan pada sibling (jika ada) bahwa mereka tidak bersalah terhadap kematian bayi tersebut, bahkan jika mereka sebenarnya juga mengharapkan kematian dari bayi tersebut
6.      Jika kemudian ibu melahirkan bayi kembali, beri dukungan pada orang tua selama beberapa bulan pertama, paling tidak sampai melewati usia bayi yang meninggal sebelumnya.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar