Tuesday, October 17, 2017

BRONCHITIS DALAM KEHAMILAN




1.    Definisi
Infeksi saluran pernapasan bawah yang dibatasi sampai trakea dan bronkus disebut bronchitis. Bronchitis dapat muncul sebagai respon radang terhadap infeksi saluran pernapasan atas yang tidak menyeluruh. Pada wanita usia reproduksi yang sehat bronchitis adalah sindrom demam virus khususnya malaise, keletihan, sakit tenggorokan, nyeri dada dan batuk. Nyeri dada yang bertambah buruk dengan napas pendek atau dengan nyeri pada inspirasi menandakan pneumonia.(Varney, Helen. 2006).
Bronkhitis adalah hipersekresi mukus dan batuk produktif kronis berulang-ulang minimal selama 3 bulan pertahun atau paling sedikit dalam 2 tahun berturut-turut pada pasien yang diketahui tidak terdapat penyebab lain (Perawatan Medikal Bedah 2, 1998, hal : 490)
Bronkitis adalah pembengkakan pada organ pernapasan dan terutama pohon bronkial. Bronkitis adalah penyakit di mana saluran udara yang diblokir oleh produksi dahak dan lendir yang berlebihan dan batuk selama minimal tiga bulan sekali dalam dua tahun. Ketika tabung terinfeksi dan bengkak, mereka menghasilkan lendir tebal yang membuatnya sulit untuk bernapas.
Ada dua jenis bronchitis, yaitu bronchitis akut dan bronchitis kronis. Bronchitis akut adalah inflamasi pada trakea dan dinding bronchial. Penyebabnya ialah infeksi virus, micoplasma, atau bakteri atau dari kontak dengan iritan (seperti: asap, debu, atau serbuk sari). (Marchese & Diamond, 1995; Mays & Leiner, 1996). Bronchitis akut hidup pendek, pada umumnya ringan. Berlangsung singkat (beberapa hari hingga beberapa minggu), rata-rata 10-14 hari. Meski ringan, namun adakalanya sangat mengganggu, terutama jika disertai sesak, dada terasa berat, dan batuk berkepanjangan. Bronkitis kronis adalah infeksi jangka panjang yang bisa menjadi fatal jika dibiarkan tanpa diberi perawatan. Virus dan bakteri penyebab bronkitis akut, sedangkan hasil pemeriksaan menyatakan bahwa bronkitis kronis merupakan manifestasi dari merokok dalam jangka waktu yang lama dan/ atau menghisap banyak asap rokok serta polutan di lingkungan yang mengganggu saluran pernapasan.



2.    Etiologi
Penyebab bronchitis atau radang bronki dapat bermacam-macam. Penyebab umum ialah : virus (adenovirus, influenza, parainfluenza, respiratory syncytial virus, rhinovirus, coxsackievirus, herpes simplex virus, lalu dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti S. pneumonia, M catarrhalis, H influenza, Chlamydia pneumoniae (Taiwan acute respiratory [TWAR] agent), Mycoplasma species. Adapun penyebab spesifik ialah: Influenza, Pertusis, Campak (morbilli), Salmonella, Difteria, Scarlet fever, Polusi udara, seperti merokok. Faktor keturunan dan status sosial pun dapat menjadi penyebab bronchitis. Secara jelasnya akan dibahas satu persatu penyebab bronchitis dibawah ini:
a.    Rokok
Menurut buku Report of the WHO Expert Comite on Smoking Control, rokok adalah penyebab utama timbulnya bronchitis. Terdapat hubungan yang erat antara merokok dan penurunan VEP (volume ekspirasi paksa) 1 detik. Secara patologis, rokok berhubungan dengan hiperplasia kelenjar mukus bronkus dan metaplasia skuamus epitel saluran pernafasan yang juga dapat menyebabkan bronkostriksi akut.
b.    Infeksi
Eksaserbasi bronchitis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus yang kemudian menyebabkan infeksi sekunder bakteri. Bakteri yang diisolasi paling banyak adalah Hemophilus influenza dan streptococcus pneumonia.
c.    Polusi
Polusi tidak begitu besar pengaruhnya sebagai faktor penyebab, tetapi bila ditambah merokok resiko akan lebih tinggi. Zat – zat kimia dapat juga menyebabkan bronchitis adalah zat – zat pereduksi seperti CO2, zat – zat pengoksida seperti N2O, hidrokarbon, aldehid, ozon.
d.    Keturunan
Belum diketahui secara jelas apakah faktor keturunan berperan atau tidak, kecuali pada penderita defisiensi alfa – 1 – antitripsin yang merupakan suatu problem, dimana kelainan ini diturunkan secara autosom resesif. Kerja enzim ini menetralisir enzim proteolitik yang sering dikeluarkan pada peradangan dan merusak jaringan, termasuk jaringan paru.
e.    Faktor sosial ekonomi
Kematian pada bronchitis ternyata lebih banyak pada golongan sosial ekonomi rendah, mungkin disebabkan faktor lingkungan dan ekonomi yang lebih jelek.

Penyebab bronchitis berdasarkan  terminologi (istilah) berdasarkan durasi berlangsungnya penyakit, bukan berat ringannya penyakit, ialah:
a.    Bronkitis akut
Penyebab tersering Bronkitis akut adalah virus, yakni virus influenza, Rhinovirus, Adenivirus, dan lain-lain. Sebagian kecil disebabkan oleh bakteri (kuman), terutama Mycoplasma pnemoniae, Clamydia pnemoniae, dan lain-lain.
b.    Bronchitis kronis
Saluran napas yang menerima rangsangan terus-menerus dari asap rokok, asap/debu industri atau keadaan polusi udara yang menyebabkan keradangan kronis dan produksi lendir yang berlebihan sehingga mudah menimbulkan infeksi ulang.

3.    Faktor Predisposisi
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan terjadinya bronchitis ialah faktor lingkungan seperti banyaknya asap rokok yang dihasilkan oleh perokok aktif, alergi, cuaca, keadaan umum yang kurang baik (Poor Health).

4.    Tanda dan Gejala
Berupa batuk berdahak (dahaknya bisa berwarna kemerahan), Pada awalnya batuk tidak berdahak, tetapi 1-2 hari kemudian akan mengeluarkan dahak berwarna putih atau kuning. Selanjutnya dahak akan bertambah banyak, berwarna kuning atau hijau.
a.    Sesak napas ketika melakukan olah raga atau aktivitas ringan
b.    Sering menderita infeksi pernapasan (misalnya flu)
c.    Lelah
d.    Demam tinggi selama 3-5 hari
e.    Rasa tidak enak di bawah tulang dada : Seperti terbakar dan sakit
f.     Muntah

Tanda dan gejala berdasarkan terminologi (istilah) berdasarkan durasi berlangsungnya penyakit, bukan berat ringannya penyakit, ialah:
a.    Bronchitis akut
Sesak napas, nyeri ringan di dada, mengalami demam ringan, batuk terus-menerus dengan lendir, menggigil, sesak di dada, nafas berbunyi, dan sakit kepala.
b.    Bronchitis kronis
Keluhan dan gejala-gejala klinis bronkitis kronis adalah sebagai berikut: 
1)    Batuk dengan dahak atau batuk produktif dalam jumlah yang banyak. Dahak makin banyak dan berwarna kekuningan (purulen) pada serangan akut (eksaserbasi). Kadang dapat dijumpai batuk darah.
2)    Sesak napas dan bersifat progresif (makin berat) saat beraktifitas.
3)    Adakalanya terdengar suara mengi (ngik-ngik).
4)    Pada pemeriksaan dengan stetoskop (auskultasi) terdengar suara “krok-krok” terutama saat inspirasi (menarik napas) yang menggambarkan adanya dahak di saluran napas.

5.    Komplikasi

a.    Otitis
b.    Sinusitis
c.    Pneumonia
d.    Terutama kalau gizi buruk
e.    Bronkiektasis
f.     Bronkopneumonia
g.    Gagal nafas akut

6.    Patofisiologi
Selama kehamilan, tubuh wanita mengalami banyak perubahan. Tubuh wanita tidak hanya mengkonsumsi oksigen dan nutrisi untuk kebutuhan dirinya sendiri namun juga untuk janin yang berada di dalam tubuhnya. Ada faktor-faktor penting yang terlibat ketika berhadapan dengan kesehatan wanita hamil seperti perubahan fisiologis dan anatomis mereka karena kehamilan, menyeimbangkan kebutuhan janin dan ibu, dan kerentanan wanita hamil terhadap penyakit.
Penemuan patologis dari bronchitis adalah hipertropi dari kelenjar mukosa bronchus dan peningkatan sejumlah sel goblet disertai dengan infiltrasi sel radang dan ini mengakibatkan gejala khas yaitu batuk produktif. Batuk kronik yang disertai peningkatan sekresi bronkus tampaknya mempengaruhi bronchiolus yang kecil – kecil sedemikian rupa sampai bronchiolus tersebut rusak dan dindingnya melebar. Faktor etiologi utama adalah merokok dan polusi udara lain yang biasa terdapat pada daerah industri. Polusi tersebut dapat memperlambat aktifitas silia dan pagositosis, sehingga timbunan mukus meningkat sedangkan mekanisme pertahanannya sendiri melemah.
Mukus yang berlebihan terjadi akibat dysplasia sel – sel penghasil mukus di bronkhus. Selain itu, silia yang melapisi bronkus mengalami kelumpuhan atau disfungsional serta metaplasia. Perubahan – perubahan pada sel – sel penghasil mukus dan sel – sel silia ini mengganggu sistem eskalator mukosiliaris dan menyebabkan penumpukan mukus dalam jumlah besar yang sulit dikeluarkan dari saluran nafas.
Masalah kesehatan pernapasan  memiliki kemungkinan untuk memburuk selama kehamilan karena rahim yang membesar cenderung menekan diafragma, mengecilkan ruang yang tersedia di paru-paru dan ukuran rongga dada ketika fungsi paru-paru sangat penting untuk memasok pertukaran oksigen yang cukup untuk ibu dan janin.
Selain itu, evaluasi histologis pada saluran pernapasan bagian atas selama kehamilan menampakkan hiperemia (peningkatan jumlah darah), hiperaktivitas kelenjar (peningkatan beban kerja kelenjar), meningkatnya isi mukopolisakarida, dan meningkatnya aktivitas fagositosis. Perubahan ini tampaknya disebabkan oleh peningkatan kadar estrogen. Akibatnya, wanita hamil mengalami hidung berdarah dan hidung tersumbat.

7.    Penanganan
a.    Deteksi dini
Dengan cukup mengetahui tentang perubahan fisiologi pernapasan di antara wanita hamil merupakan hal yang sangat penting untuk pengobatan dan perawatan ketika mereka terkena penyakit pernapasan. Seperti yang telah  diketahui, perubahan-perubahan ini memungkinkan calon ibu memenuhi kebutuhan metabolik bayi yang akan lahir. Untuk mendiagnosa penyakit ini digunakan tes-tes oleh para dokter selain lewat tanda-tanda dan gejala yang jelas dalam menyakinkan penyakit ini, tes-tes seperti tes fungsi paru-paru, pulsa oksimetri, gas darah arteri, rontgen dada, dan pemeriksaan dahak.

b.    Anamnesa
Untuk mendukung diagnosis, yang dapat dilakukan ialah mengidentisikasi klien dengan menganamnesa dengan pertanyaan yang mengarah. Dari anamnesa tersebut, seorang ibu (klien) dapat mengeluhkan riwayat faktor predisposisi yang terkait dengan bronchitis dibawah ini (Shannon, 1995):
a.    Merokok
b.    Menderita penyakit ISPA
c.    Menderita infeksi
d.    Penyakit obstruktif paru akut
e.    Asma
Seorang ibu juga dapat (klien) mengeluhkan salah satu atau lebih gejala dibawah ini (Shannon, 1995):
a.    Batuk produktif (berlendir sampai purulen)
b.    Ketidaknyamanan dada substernal
c.    Gejala ISPA
·         Malaise
·         Rhinorrhea
·         Sakit tenggorokan
·         Sakit kepala

c.    Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik memperlihatkan:
a.    Suhu normal atau sedikit meninggi
b.    Hiperemi faringeal
c.    Auskultasi paru : rhonchi, wheezing, atau crackles without consolidation

d.    Penatalaksanaan
Pada sebagian besar kasus, infeksi akan jelas dan batuk akan sembuh dalam satu atau dua minggu dengan terapi suportif, yang sebaiknya menyertakan program biasa seperti istirahat, meningkatkan cairan, dan dekongestan atau penekan batuk. Jika batuk adalah gejala utama, penggunaan inhaler albuterol (proventil, ventolin) dapat meredakan gejala. Jika inhaler diresepkan, petunjuknya harus dua kali isapan, sebaiknya setiap 4-6 jam sesuai yang dibutuhkan untuk melegakan gejala. Frekuensi penggunaan yang lebih banyak, atau penggunaan yang berkepanjangan, membutuhkan rujukan ke dokter.
Pengobatan bronkitis pada wanita hamil sama dengan mereka yang tidak hamil. Dalam kasus manapun, jika penyakit ini disebabkan oleh virus maka pengunaan antibiotik tidak berguna (karena diresepkan bagi bronkitis yang disebabkan bakteri). Bronkitis akut biasanya dapat sembuh dengan sendirinya dan hilang dalam waktu seminggu. Pengobatan umumnya terdiri dari istirahat penuh, banyak minum, penggunaan humidifier (pelembab udara) untuk membersihkan paru-paru, dan menghindari polusi udara seperti merokok. Meskipun aspirin cukup umum diberikan pada setiap orang, wanita hamil tidak dibolehkan untuk menggunakannya karena dapat mengakibatkan pendarahan dan bisa menimbulkan komplikasi.
Selain itu, pencegahan selalu lebih baik daripada menyembuhkan. Karena berada dalam kondisi yang rentan, wanita hamil harus selalu berhati-hati dengan tubuh mereka seperti selalu mencuci tangan mereka (untuk menghindari bronkitis virus atau bakteri) dan berhenti merokok atau menghindari perokok. Wanita hamil juga disarankan untuk mendapatkan vaksin flu terutama jika mereka akan hamil selama musim flu. Meskipun vaksin tidak akan sepenuhnya mencegah wanita tersebut terkena bronkitis, hal tersebut setidaknya memberikan perlindungan dari virus tertentu yang menyebabkan penyakit pernapasan.
Wanita hamil menderita bronkitis diperlakukan dalam metode yang sama seperti yang dilakukan oleh individu non-hamil normal. Pasien disarankan istirahat total, asupan banyak cairan seperti air dan jus buah segar, selain dari saran untuk menghindari paparan polutan dan merokok. Aspirin biasanya diresepkan untuk individu yang tidak hamil normal sebagai asupan aspirin oleh wanita hamil dapat menyebabkan perdarahan dan komplikasi lain.
Kondisi penyakit pernapasan apapun dapat memberikan dampak serius pada bayi yang akan lahir jika dibiarkan berkembang hingga pertukaran oksigen-karbondioksida terganggu dan membahayakan.
Penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan ialah sebagai berikut.
1.    Tes Diagnostik
Diagnosis bronchitis akut biasanya berdasar pada riwayat, keadaan klinis, dan penemuan pada pemeriksaan fisik. Namun, tes berikut dapat dilakukan dengan beberapa gejala, riwayat kondisi pulmonal, atau ketika terdapat suspek patologi.
a.    Chest x-ray à biasanya dalam batas normal
b.    Kultur sputum dan/ atau smearà dapat menunjukkan pathogen spesifik (biasanya kontaminan umum orofaringeal pulih dan tidak diketahui secara signifikan)
c.    Tuberculosis skin test
2.    Manajemen / Pengobatan
a.    Pengobatan simptomatik pada wanita dengan bronchitis akut mencakup: istirahat, peningkatan asupan cairan, dan penggunaan asetaminofen, 650mg per-oral setiap 4jam, sesuai kebutuhan (untuk mengurangi rasa nyeri karena sakit kepala, dan demam)
b.    Penekanan batuk dapat dicoba melalui penggunaan obat-obatan yang mengandung dekstrometorfan. Dosis lazim adalah 15 mg per-oral setiap 6 jam. Nasehati klien untuk meminta pada apoteker agar obatnya tidak mengandung alcohol.
c.    Menimbang penggunaan bronkodilator inhalasi pada wanita dengan suara napas abnormal (misalnya: wheezing).
·         Dosis lazim albuterol satu sampai dua tiupan setiap 4 jam
d.    Terapi antimikrobial tidak diindikasikan dalam pengobatan bronchitis akut pada wanita sehat. Namun, pada wanita dengan riwayat penyakit paru sebelumnya (penyakit obstruksi paru akut), penggunaan antibiotik mungkin bermanfaat. Agen berikut dapat dipertimbangkan untuk digunakan:
·         Eritromisin 250 mg p.o q.i.d selama 7 sampai 10 hari
Catatan : hindari penggunaan estolate eritromisin, yang telah didokumentasikan untuk menginduksi hepatotoksisitas pada wanita hamil. (Briggs, Freeman, & Yaffe, 1994). Eritromisin memberikan spektrum luas dengan cakupan biaya terbatas.
·         Amoksisilin 500mg p.o t.i.d selama 7 sampai 10 hari.
e.    Jika ibu diduga mengalami infeksi influenza tipe A dan dia berada pada peningkatan risiko komplikasi yang terkait dengan penyakit ini, Amantadine hidroklorid mungkin diresepkan setelah konsultasi dengan dokter.
f.     Jika diduga pertusis, konsultasikan pada dokter. Terapi antibiotik yang direkomendasikan untuk pertusis ialah eritromisin atau trimetroprim-sulfametksazole selama 14 hari.

3.    Konsultasi
Konsultasi pada dokter, sesuai indikasi, untuk wanita hamil dengan penyakit obstruksi paru akut, beberapa gejala respirasi, kondisi signifikan medical yang pokok, atau ketika respon inadekuat pada pengobatan dicurigai.

4.    Pendidikan kesehatan bagi klien (Tindakan suportif)
1)    Beritahu ibu mengenai bronchitis akut, penyebabnya, pengobatan, tanda dan gejala komplikasi, dan beberapa rencana untuk evaluasi lanjutan.
2)    Yakinkan kembali ibu bahwa bronchitis akut tidak berhubungan dengan konsekuensi yang merugikan bagi janin/ bayi baru lahir.
3)    Jika ibu merokok, beritahu ibu mengenai konsekuensi yang merugikan bagi janin dan kehamilan dari merokok, dan cara untuk mengurangi atau berhenti merokok. Jika memungkinkan, rujuk ibu untuk mengikuti program berhenti merokok dengan kelompok pendukung. (Shwartz, 1992)
4)    Pendidikan bagi pasien dan keluarganya tentang
·         Menghindari merokok
·         Menghindari iritan lainnya yang dapat terhirup
·         Mengontrol suhu dan kelembaban lingkungan
·         Nutrisi yang baik
·         Hidrasi yang adekuat


5.    Follow-Up
1)    Jika diindikasikan untuk konsultasi pada dokter, rujuk per-rekomendasi dari dokter
2)    Evaluasi ibu yang telah diresepkan antibiotik satu sampai dua minggu setelah terapi.
3)    Dokumentasikan diagnosis bronchitis akut dan manajemen dalam catatan perkembangan klien. 

DAFTAR PUSTAKA
Varney, Hellen. 2006. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Vol.1. Jakarta: EGC

NN. Wanita Hamil dengan Bronkitis

Foezi Citra Cuaca Elmart. Asuhan pada Kehamilan dan Persalinan yang Disertai Penyakit/ Infeksi Sistem Pernapasan Asthma, Bronchitis, Influenza, TBC, Pneumonia. 2009. http://zietraelmart.multiply.com/journal/item/39. (Diakses tanggal 25 Maret 2011)

NN. Bronkitis akut: Mengenal Tentang Perbedaan Tanda-tandanya dan Gejala-gejalanyahttp://doktermu.com/bronkitis/43--bronkitis-akut-mengenal-tentang-perbedaan-tanda-tandanya-dan-gejala-gejalanya-. (diakses tanggal 30 Maret 2011)

 

Bronchitis Kronis. http://cakmoki86.wordpress.com/2010/04/22/bronkitis-kronis/. (diakses tanggal 30 Maret 2011)

 

Star, WiniFred L. 1996. Ambulatory Obstetrics. San Fransisco:UCSF Nursing Press School of Nursing- University of California (halaman: 872-875)



No comments:

Post a Comment